Search

Rabu, 17 Agustus 2011

CATATAN KECIL KAMI

 

Oleh : Mereka yang tak dihiraukan

“Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.”
                                                                        -Universal Declaration of Human Rights-
***
Kami adalah kami, biarpun hanya mencari berita bukan berarti kami seperti mereka yang tak punya rasa. Dari sisi negatif kami sangat meresahkan, dari pandangan netral kami tak dipedulikan, tapi dari sudut positif kami selalu dibutuhkan.
Di dunia yang tak lagi mengenal uang untuk berkuasa, informasi menjadi teman kami menyambut dunia, sebuah dunia baru dengan kekuatan baru yang dikenal dengan pers. Dari sekian banyak pekerjaan, wartawan hadir dengan wajah segar media massa, informasi bukan lagi komoditi gratis, melainkan menjadi barang mentah untuk meraup keuntungan. Dunia juga semakin sempit, jarak bukan lagi hambatan, informasi pun bukan hal yang sulit didapatkan. Tapi informasi disisi lain mampu mematahkan kurungan zaman, membebaskan rasa-rasa ingin tahu yang bertebangan tanpa arah. Manusia dan sejenisnya, selalu punya sesuatu untuk diketahui, entah hal kecil atau sederhana bahkan hal yang luar biasa dan mampu mengubah dunia.
Sepele memang, berlebihan mungkin, tapi itulah hidup kami. Memberi informasi pada mereka yang membutuhkan. Sikap karakter, membentuk seseorang wartawan menjadi mereka yang dikenal dengan “professional” mampu membungkap rasa ketika di lapangan, dan melihat fakta diantara tembok-tembok kepentingan. Batin selalu bertarung antara idealis atau pragmatis, tuntutan jaman mengubah cara pandang dengan sangat drastis, mengubah perspektif menjadi suatu hal yang prestis.
Waktu adalah musuh, juga dianggap teman. Mereka selalu bermain dengan waktu, disamping dengan “ketepatan”. Fakta juga tak kalah akrab dengan mereka, moral dan etika bahan evaluasi yang selalu dipertanyakan. Keberpihakan atau kenetralan, menjadi kekuatan antara melihat kenyataan atau sebuah harapan baru.
Tiap detik jutaan orang mengakses informasi, ada yang menikmatinya tanpa biaya, ada yang mendapatkannya dengan harga tak murah. Tingkat manfaatnya pun berbeda, tergantung kebutuhan orang satu sama lainnya. Tapi yang terpenting, mereka selalu membutuhkan informasi, tak melihat umur, ras, agama, jeinis kelamin dan pandangan politik. Mereka hanya membutuhkan sesuatu untuk diketahui.
Lalu muncullah media massa, lalu muncullah media cetak radio dan televise. Semua hadir karena alasan diatas. maka hadirlah reporter, fotografer, editor, layouter, penyiar, presenter, pembawa berita dan mereka yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Mereka ada, orang terdekat yang bisa anda lihat dalam layar televisi, yang suaranya anda dengar dalam radio dan tulisannya anda baca di media cetak damn media massa. Mereka melayani rasa ingin tahu anda para manusia, yang membayar komoditi mereka dengan loyalty seadanya. Maka terbangunlah industri media massa dalam tahap raksasa, menguasai aliran informasi dan materi dengan mudahnya, menyingkirkan lembaga mandiri tanpa susah payah. Ibarat perusahaan multinasional menggusur semangat-semangat usaha kerakyatan.
            Pergulatan lembaga pers, juga terlihat dalam kampus. Tempat para intelek menggali sumber ilmu pengetahuan. Dalam demokrasi pilar-pilar yang dibangun pada masa Montesqiu bertambah satu dengan kehadiran pers didalamnya. Bukan sebagai pemegang kekuasaan atau yang menjalankannya, tapi kemandirian yang mengawasi kinerja pembangunan pemerintah dan elit-elitnya. Suara rakyat tercermin dalam tulisan satir dan gambar karikatur yang menggelitik tapi pedas mengkritik. Berharap suatu saat ada momen kesadaran dalam kalbu para bandit-bandit yang menggerogoti sayap-sayap cita-cita sang garuda.
Itu sebuah harapan, harapan yang masih jauh bagai bumi dengan langit, angan-angan diluar bingkai kenyataan yang semestinya mampu membawa perubahan. Pers dan jurnalistik yang murni membawa tujuan kekempat pilar semakin kropos, dimakan kepentingan-kepentingan, dikejar pinjaman-pinjaman, dan keberpihakan para teknokrat penjilat. Ingatan ketika pers dibredel bukan hal yang mudah dilupakan, tapi ketika pers mulai keluar dari cangkang-cangkang kekuasaan yang mengekang “ia” semakin tak karuan. Kualitas bukan hal yang sering dibicarakan, melainkan kuantitas para pembaca yang diutamakan. pragmatis memang, tapi setidaknya membawa pada perubahan dengan menyesuaikan cara tambal dan sulam.
Sebuah lembaga pers mahasiswa berdiri dengan tujuan yang banyak orang pikir sangat utopis, mengawal demokrasi dan kebebasan berpendapat untuk mengisi kemerdekaan dan mengawasi pembangunan, fisik maupun moral dan etika. Tak semua orang mampu tergelincir dalam pers kampus, yang semakin jauh dari gaung semasa orde baru. Setelah reformasi, lembaga ini hanya menjadi pelengkap dan pemberi informasi semata, diberikan dana secukupnya untuk membuat beberapa eksemplar berita yang memuja setinggi langit si dermawan. Lebih dari itu, mereka dibatasi, informasi di disimpan dalam permainan kepentingan. Materi memang penting, tapi tak pernah sepenting fakta yang membawa pada perubahan menuju yang lebih baik. Jika kritik adalah jalannya, maka semakin pedas maka akan semakin baik.
Ada saat dimana berita mampu mengubah pandangan, ada juga saat dimana berita membelokkan opini publik. Sebuah kenyataan muncul dengan perlahan, bahwa pers dan jurnalistik semakin tak higienis. Orang-orang memandang dengan tatapan “jijik” sambil membuang wajah, menolak untuk membaca yang belum diketahui dengan harapan bahwa “itu sekedar sampah, untuk apa dibaca?”.
Ada rasa yang dikenal dengan penolakan, dari puluhan atau ratusan rasa yang manusia punya mungkin sakit hati yang paling sulit diobati, merusak harga diri ketika kepercayaan para intelek terhadap pers semakin memudar. Kerja mencari berita dianggap kerja mencari eksistensi, dari pagi sampai siang menuju sore serta malam dan menuju pagi lagi bukan waktu yang cepat berlalu dengan menyiapkan list-list pertanyaan dan membuat konsep wawancara. Kadang sukses, kadang harus menunggu, atau bahkan gagal sama sekali.
Ada kebanggaan ketika apa yang kita dapatkan akan berguna kepada seseorang, ada kebanggan ketika apa yang kita tulis dapat dibaca, ketika gambar yang kita ambil dapat dilihat. Keringat bukan harga dari semua itu, lelah juga bukan pencapaian, ada sesuatu yang lebih dari itu, sebuah sikap menghargai layaknya akan menjadi hadiah terindah, walaupun hanya sekedar menerima. Bukan materi yang kami cari, bukan juga popularitas yang menjadi prioritas, tapi sebuah rasa yang lebih memanusiakan manusia. Maka berlebihankah ketika kami meminta untuk dihargai, bukan hanya sebagai pers, tapi lebih dihargai sebagai seorang manusia yang memiliki hati untuk merasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar