Search

Sabtu, 16 April 2011

BALADA REALITA "TILANG"

Hari ini tanggal 16 April 2011, sebuah takdir membawa pada kejadian kecil dalam lingkup "hukum" dan pengayoman masyarakat oleh bapak polisi yang terhormat. Oh, indah benar kata-kata pembuka cerita ini, padahal secara pragmatis kisah ini hanya tentang rutinitas "tilang menilang" yang dialami dua insan anak muda yang tak tahu apa-apa. Seperti biasa kronologis kejadian bermula dari sebuah pertaruhan hidup dan mati melewati jalan raya tanpa memakai helm, makanan empuk bagi razia pak polisi berompi hijau nyala-nyala. Diantara lampu merah perempatan yang terbilang padat merayap, dua pemuda merasa adrenalin yang memacu cepat melihat dua polantas diarah jam 12, dua petugas yang mengayomi pemakai jalan menghindari kemacetan, dan dua lagi tidak kelihatan berjubel dengan abu-abu rakyat sipil, tersamarkan dengan jelas (sial).

Dalam perasaan campur aduk ini, antara takut, malas, dan pusing memikirkan bagaimana jika uang melayang sia-sia tanpa ada perasaan kenyang atau dahaga yang terpuaskan. Sedikit tanda persetujuan kebebasan memiliki STNK dan SIM jika sampai kejadian yang tidak diharapkan itu terjadi. Ini tak boleh dibiarkan. Adakalanya kita menyerah dan pasrah, tapi bukan sekarang saatnya, sekarang adalah saatnya kita tidak menyerah pada nasib dan takdir. Biarpun harus melawan peraturan dan kewenangan yang sah dan legal. Tapi bolehlah sedikit berjuang seperti pejuang-pejuang `45 tempo dulu. Biar ada sedikit rasa lega bila gagal lolos dari semua ini, setidaknya kita mencoba, tak penting sukses atau berhasil yang penting itu mencoba!.

Strategi perang telah siap dipraktekkan, dengan beberapa menit taktik telah dapat dirumuskan. Itulah otak "made in" Indonesia, cepat berpikir dalam keadaan terdesak dan tertekan (terima kasih mama dan papa). Rencananya simpel, bersembunyi diantara deretan mobil yang menunggu lampu merah di perempatan. Lalu mengambil jalur dalam ketika ingin belok kanan, dengan perhitungan fisika (bab kecepatan dan percepatan) yang tepat dan sedikit doa keberuntungan (tiba-tiba teringat Yang Maha Kuasa) semoga berhasil dan selamat sampai tujuan, amin.

Dan lampu hijau mengedipkan matanya, mempersilahkan kami untuk maju dan mengaplikasikan rencana brilian ini. sepertinya akan berhasil, karena dua polisi tak dapat menjangkau, walau cuma untuk memanggilpun susah. Senyum sumringah sedetik menjadi tangis air mata, karena arus yang tak lancar kendaraan dua roda itu pun terdesak, dan takdir itupun memanggil. Polisi yang entah datang darimana menyetop dua pemuda berani ini. Memang mati satu tumbuh seribu, dua polisi dapat dilewati tapi dua lagi tetap menghadang. "Malang benar nasibmu nak" hati kecil menyungut.

Dengan suara dan perangai penuh wibawa, kendaraan yang mati kutu itu disuruh menepi dan dimintai SIM dan STNK. Lalu ditunjuk menuju kantor polisi terdekat. dengan penuh penyelasan dan main salah-salahan keduanya pergi kesana, dengan putaran roda yang berat dan hati yang tak kuat menerima kenyataan sampailah di pos polisi yang ditunjuk bapak polisi.

Singkat cerita, mulailah interogasi 5 w 1 H kenapa melanggar peraturan lalu lintas (tidak memakai helm). Dengan berkelit dua pemuda dapat menjawab pertanyaan satu persatu. Dan inilah wajah buram dunia "per-tilangan" Indonesia, yang seharusnya mendidik agar tidak terjadi pelanggaran lainnya malah berubah jadi transaksi tawar-menawar (pasar tradisonal : red). Lalu lelang SIM dan STNK mencapai kesepakatan, bukan dengan penawar tertinggi tapi malah setengah harga dari harga semula (satu pasal lima dolar, jika kurs beli $ 1 = Rp. 10000). Inilah seni penawaran sesungguhnya, dalam tensi yang tinggi pelelang dan calon pembeli beradu argumentasi untuk dua identitas birokrasi. dengan alot, semua dapat terselesaikan, dengan baik dan tak ada yang terluka.

Dua pemuda itupun hendak pulang, sebelum pulang salah satu pemuda kembali lagi kedalam kantor sambil bertanya "Pak, kalo kita lewat perempatan tadi, nanti kena tilang lagi gimana?" dan pak polisi menjawab "enggak lah, makanya langsung pulang jangan kemana-mana lagi" tegas pak polisi. Setelah puas dengan jawaban pak polisi, dua pemuda itupun pulang dengan misuh-misuh sendiri dalam perjalanan.

***

Dari kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa "polisi yang baik ya cuma Briptu Norman, yang lebih mahal (harga SIM dan STNK-nya) banyak". Semoga bermanfaat bagi pembaca yang setia dan budiman, jayalah terus Polisi Indonesia, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar