Search

Sabtu, 05 Februari 2011

MENCARI JAWABAN DARI PERTANYAAN KEHIDUPAN


 "Hidup akan menemukan jalannya sendiri"

Hidup ini bukan hanya tentang siklus biologis dan alamiah tentang kehidupan makhluk hidup dan segala benda-benda mati disekitarnya, bukan hanya tentang berputarnya poros bumi mengelilingi matahari dalam jalur edarnya dan bukan hanya tentang mempertahankan kelangsungan hidup, serta bukan hanya semata berhentinya seluruh fungsi sistem organ atau dengan kata lain "kematian",

Seluruh hidup ini adalah sebuah labirin yang disetiap lorongnya kita bisa temukan hal-hal yang tak terduga, bagai sebuah buku yang kita tulis sendiri dengan tinta-tinta perjalanan hari demi hari, serta bagai bola yang kita lempar lalu menggelinding kesana-kesini tanpa adanya kepastian.

Hidup tidak dapat diperhitungkan seperti menghitung luas segitiga dengan hukum phytagoras, kadang sulit diprediksi dan selalu memberi kejutan yang tak terlupakan. Sebagian orang ada berharap hidup sesuai keinginan dan sesuai harapan, tapi hal itu adalah pertaruhan yang penuh resiko. Karena dengan adanya keinginan seperti itu setiap orang berusaha mengalahkan kehidupan tanpa adanya persiapan layaknya berperang tanpa menggunakan strategi jitu dan senjata yang ampuh, hanya mengantarkan nyawa dengan sia-sia. Itu tindakan yang berani, tapi prajurit yang gugur tersebut lebih banyak dikenang karena kebodohannya bukan karena keberaniannya. Akhirnya kisah mereka tenggelam dalam zaman yang terus berganti. mereka tak lagi dikenang dan yang terpenting mereka telah dikalahkan oleh kehidupan.

Apakah kita yang harus menemukan jalan hidup kita atau hidup yang menemukan jalannya sendiri . Tapi jangan pernah sekalipun berusaha menghindari jalan hidup karena tanpa sadar kita akan terjatuh dan akhirnya dikalahkan kehidupan.. Memang hidup adalah kekejaman, tahun-tahun penuh kengerian. Tapi disetiap hal-hal besar yang tak mengenakkan ada hal-hal kecil yang dapat membahagiakan, nikmati hal-hal kecil tersebut sebelum mereka hilang tenggelam dalam nasib buruk.

Sebenarnya apa hakikat kehidupan yang kita jalani bersama organisme dan benda mati disekeliling kita, apakah untuk menjalankan hukum darwinisme atau mempunyai tujuan yang lebih mulia dari berkembang biak dan berevolusi. Dari awal terciptanya pemikiran manusia tentang hidup ada dua hal yang menjadi pertanyaan besar bagi mereka. Pertama sebenarnya siapa yang menciptakan mereka? Apakah mereka (kita) tercipta dengan sendirinya atau ada kekuatan diluar akal manusia yang mengatur semua penciptaan ini, pemikiran inilah yang membawa kita pada spiritualisme, kekuatan abstrak yang tak kasat mata disekeliling kita, tentang arwah nenek moyang dan Tuhan bagi kebanyakan umat yang percaya. Kedua, apa tujuan manusia diciptakan? Dari awal perkembangan otak dimana pemikiran-pemikiran paling fundamental muncul adalah tentang eksistensi dan tujuan hidup. Semua yang mereka lakukan akankah mempunyai makna atau  arti dan tujuan, atau mereka tercipta tanpa sengaja tanpa mempunyai tujuan yang pasti.
Itu adalah dua pertanyaan besar yang hadir disetiap neuron-neuron otak manusia yang merangsang anggota tubuh mencari setiap jawaban yang mungkin dan dapat menenangkan hati mereka walau hanya sementara.
Ketika manusia saling berkutat mencari jawaban tujuan mulia tersebut, muncullah dua filosofi besar yang menawarkan jalan keluar, agama dan ilmu pengetahuan.
Agama bertahan ribuan tahun mengaplikasikn sistem penggandaan kepercayaan pada setiap pengikutnya yang putus asa mencari jawaban yang mendasar. Agama mempunyai segalanya dari penjelasan tentang penciptaan manusia dan alam semesta serta sebuah tujuan keramat tentang hidup dalam surga atau neraka, agama mempunyai semua jawaban-jawaban itu dan orang-orang puas menerimanya. Maka tidak heran sebagian besar atau hampir seluruh manusia dipermukaan bumi mempunyai kepercayaan dan meyakini setiap detilnya. Dengan mengesampingkan setiap ajaran agama dan menggeneralisasikan konsepnya, agama memberi kesimpulan tentang kekuatan diluar kehendak manusia dan pemikirannya. Sebuah pencapaian abstrak tentang Tuhan disetiap proses penciptaan dan pengaturan dunia dalam semesta, sebuah konsep yang bahkan manusia sendiri tak dapat memahaminya tapi mampu menerima dan mengimaninya. Mungkinkah ini jawaban yang ideal bagi setiap pertanyaan manusia? Tapi tak ada yang lebih baik lagi tentang mengabaikan ketidaktahuan dan kepasrahan dalam pencarian sebuah jawaban dengan menyerahkannya pada sesuatu diluar pengetahuan manusia, alasan yang sederhana untuk berhenti mencari sebuah alasan.
Di sisi lain ilmu pengetahuan, sebagai eksperimen lain dari reaksi kebutuhan dalam pencarian sebuah jawaban tidak serta merta berhenti dan menerima keputusan sepasrah orang yang mempercayai agama. Mereka terus mencari tahu, mungkin sebagaian besar dari mereka telah beragama tapi hal itu yang membuat mereka ingin membuktikan segalanya dengan ilmiah. Inilah insting dari manusia yang paling mendasar, logika. Manusia tercipta dengan otak tercanggih yang pernah ada, pertanyaan yang muncul pada awalnya merupakan hasil dari  betapa cerdasnya mereka mempertanyakan eksistensi sebuah tujuan. Tapi ketika pertanyaan mereka terhenti oleh adanya Agama, mereka mulai bertanya tentang Agama itu sendiri. Mereka beranggapan Agama memberi jawaban instan tanpa mengenyangkan perut mereka dengan pembuktian yang dapat dipercaya, iman adalah virus tak berdasar tentang kejadian yang tak ada, dongeng dan mitos dipahami tanpa terlihat dengan mata kepala sendiri, itukah yang namanya kebenaran – sejarahpun dimana kita tidak pernah mengalaminya harus dibuktikan dengan bukti yang kuat agar dapat dinyatakan "telah terjadi"- lalu apakah kebenaran Agama dapat dinyatakan dengan variabel atau konstanta? Jika tidak itu hanya keputus asaan orang yang tak menemukan jawaban dan menyerah untuk mengetahuinya. Mungkin begitulah beberapa pemikiran yang berserakan dikalangan akademis non beragama.
Agama dan ilmu pengetahuan, dua hal besar dalam kehidupan, ada yang berkutat sekuat tenaga  dengan menggabungkan keduanya dan ada yang setengah mati berusaha memisahkannya. Tapi yang pasti tak ada yang dapat menghilangkan keduanya dari kehidupan, mungkin bisa kita ambil hal kecil yang mengaburkan kekontrasan dua hal besar ini, sebuah kata-kata sederhana tentang keseimbangan. Dimana ilmu pengetahuan memberikan banyak pilihan dan Agama memberi tahu mana yang harus kita jalani.

Sekarang terserah bagaimana cara anda menjawab setiap pertanyaan yang mendasar tersebut, anda bisa menggalinya dalam setiap ajaran agama atau berpetualang dalam perjalanan ilmu pengetahuan. Tapi ketika dua hal ini masih tidak dapat mengakomodasi keingintahuan anda, cobalah anda mencarinya dengan jalan anda sendiri. Jalan dimana anda dapat tentram didalamnya tanpa harus meragukan pendapat anda, jalan dimana rasa aman muncul dengan sendirinya seperti langit dikala hujan dan jalan dimana anda rela mati untuk sekedar tahu akan kebenaran sehingga takkan pernah ada penyesalan yang tertinggal dibelakang.


Mungkin jawaban-jawaban itu semua bukan berada jauh diatas kemampuan berpikir kita, bukan diluar kuasa kita dan diantara serpihan tak kasat mata. Mungkin jawaban itu sedekat yang tak kita duga, mungkin dia telah ada semenjak kita diciptakan, hanya saja kita tak menyadari keberadaannya. Dan mungkin jawaban itu ada didalam diri anda masing-masing, bersemayam tanpa pernah terjamah didalam kesadaran anda yang paling dalam atau jawaban itu adalah diri anda sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar