Search

Minggu, 06 Februari 2011

IMAJINASI


"Hari ini kita akan pergi ke dunia awan dan langit, disana terdapat beberapa pohon yang daun-daunnya bisa berbicara dan kadang beryanyi disaat tertentu. jalanan diselubungi awan melingkar seperti jalan layang, membentuk tangga menuju istana tak beratap diujung langit. Disana banyak sekali burung yang ditumpangi orang-orang berlalu lalang, dengan dua sayap lebar berbulu dan paruh panjang seperti elang mereka bermain bola volly dengan net terpanjang yang pernah kalian lihat. tak ada yag bersedih, semua berggembira. Hujan datang tanpa titik air melainkan permen lolipop berwarna-warni, tak perlu takut gigi berlubang karena gigi-gigi disana hanya rusak jika kalian tak pernah makan permen. malam terjadi begitu cepat karena hidup mereka saja sudah seperti mimpi - untuk apa berlama-lama meninggalkan mimpi jika kau hidup dan sadar didalamnya- "

Diatas adalah sekilas imajinasi saya tentang dunia langit, agak liar dan tak karuan memang tapi itu adalah bagian kecil dari sisa pemikiran anak-anak saya. Imajinasi, bagaimana anda membayangkan kata tersebut? tak mungkin, mustahil, gila atau tak wajar? dengan hanya membayangkan saja anda telah berimajinasi. Otak kita terbuat dari bahan-bahan yang dapat menembus segala kemungkinan, Einstein dapat menembus alam semesta dengan teori massa dan energinya, Newton menembus penglihatan pada teori gravitasi tak kasat mata dan ilmuwan lain menciptakan berbagai macam teori dengan hanya "membayangkan". Dan darimana kemampuan berimajinasi kita berasal? tidak lain dan tidak bukan adalah dari masa kecil kita.

Picasso mengatakan, “Setiap anak dilahirkan sebagai seorang seniman (maksudnya: kreatif dan imajinatif), masalahnya adalah bagaimana mereka tetap kreatif sampai dewasa.” (bukan menjadi profesi), Lalu Sir Ken Robinson juga berkata, “Setiap anak sudah kreatif. Lalu orang dewasa dan sekolah mendidik anak keluar dari kreatifitas".

Imanjinasi merupakan anugerah alamiah yang ada pada diri anak-anak, salah jika anak dibatasi dengan ketakutan akan kesalahan. Berani mengambil resiko dan membuat kesalahan seharusnya tidak menjadi alasan matinya kreatifitas, tanpa adanya kesalahan dan berusaha melewatinya takkan ada yang namanya "pembaharuan". Bukankah Thomas Alfa Edison melalui banyak kesalahan terlebih dahulu sebelum menemukan lampu pijar, bukankah Colombus melakukan kesalahan sebelum menemukan Benua Amerika - yang sekarang menjadi negara adidaya di dunia -. Lalu benarkah jika kesalahan adalah sesuatu yang haram dan harus ditakuti? tempat macam apa yang memperlakukan kesalahan sebagai dosa yang tak terampuni selain dalam sekolah formal yang berada diantara kita.

Kembali pada imajinasi, saya teringat pada kartunis dan penulis cerita anak dr. Seuss ( Theodor Seuss Geisel) dari Amerika yang telah meninggal pada tanggal 24 September 1991. Beliau adalah imajinator sejati dengan beberapa buku anak-anak yang terkenal seperti : The Cat In The Hat, Oh The Think`s You Can Think, Oh The Place You`ll Go dan Horton Hears a Who.

The Cat In The Hat telah diadaptasikan menjadi film dengan judul yang sama dan diperankan oleh Mike Myers, lalu Horton Hears a Who juga telah diadaptasi ke film animasi dimana yang menjadi pengisi suaranya adalah Jim Carrey. Dr. Seuss membuat anak-anak kembali berimajinasi dengan berbagai kejadian yang tidak masuk diakal dan begitu liar jika kita pikirkan, tapi itulah yang membuatnya menjadi imajinator yang tak malu untuk berimajinasi dan menggali kreatifitas dalam seluk beluk otak ini.

Dan ketika anda sekarang yang duduk dan membaca tulisan ini, akankah anda membayangkan dimanakah sekarang dunia anak-anak yang dulu pernah hadir dalam kehidupan anda? mereka tidak menghilang, mereka tidak lenyap. Mereka hanya mengendap dibawah pemikiran-pemikiran dewasa anda, dimana sayap-sayap yang dulu pernah anda bayangkan sekarang patah ditimpa pikiran akan keuangan dan finansial. Dan ketika anda mengenang imajinasi yang telah lama terkubur itu, ingatlah bahwa imajinasi bukanlah sebuah bid`ah tapi imanjinasi adalah kebebasan dimana anda dapat menjadi diri sendiri secara utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar