Search

Sabtu, 15 Januari 2011

PENUH KEABU-ABUAN

Mahasiswa hidup dengan suara lantang, mereka dilahirkan dari sejarah kelam penindasan dan tirani diktator rakyat sipil tak berdosa. Perang mereka tanpa senjata, hanya suara serak dan semangat seadanya cukup membuat siapa saja menjadi gentar tak bergerak. Derap langkah yang beriringan bagai konvoi rombongan militer adidaya, menyapu semua kegentaran dan menggigit kegetiran. Mereka mati dan terluka, tergeletak dalam dekapan keputus`asaan harapan kosong akan perdamaian dan keadilan. mereka bukan maniak kerusuhan dan pencinta kekerasan, tapi ketika hak suara mereka dibungkam, sekejap saja mereka menjadi pembunuh berdarah dingin, haus akan tindakan nyata dari sebuah janji yang tak pernah ditepati.


Tak ada yang dapat membenarkan motif apapun yang mendasari mereka berkumpul dan menjadi massa yang berbaris beriringan menentang kebijakan yang membunuh secara perlahan, mereka hanya ingin berjuang dengan apa yang mereka genggam yaitu pendidikan dan kepedulian. Mereka menentang kapitalis yang diajarkan dalam kurikulum mereka, mereka menentang pemerintah yang dipilih rakyat dengan legitimasi yang sah. Banyak orang yang menyebutnya gila dan tak bermoral.

Mereka dalam garis-garis keabu-abuan yang tak mengenal hitam putih dengan jelas, mereka remaja yang terikat rantai reformasi akan perubahan. Dalam tiap hembus nafas adalah menghirup udara kebebasan dan dalam tiap penantian mereka dapat mencium aroma keadilan disetiap bangun dari tidur dari kenyataan yang lebih menyeramkan daripada mimpi yang paling buruk.

Biar mereka ikuti jalan masing-masing. biarkan mengalir seperti sungai, biar kemana pun kau pergi dan menghilang di hulu atau hilir, pada akhirnya kita akan bertemu pada muara yang sama yaitu muara hukum Tuhan dan pengadilan akhirat. Dimana yang salah tetap salah, dan yang benar tetap benar, tak ada lagi keraguan serta keabu-abuan yang senantiasa mengganjal pemikiran dan pengharapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar