Search

Jumat, 07 Januari 2011

Membayangkan Pendidikan di Masa Depan?

"Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan”

-Pythagoras-

  Jika kita berbicara tentang pendidikan kita berbicara tentang pembentukan identitas peserta didik dan kegiatan menyalin fakta dari setiap generasi ke generasi lainnya, tetapi sebagian besar sistem pengajaran pada saat ini mirip dengan sistem pengajaran yang diciptakan oleh plato sejak 2000 tahun yang lalu. Pada saat ini kita harus tahu bahwa pendidikan bukan hanya sistem pendukung di negara ini, tetapi hal yang paling penting yang harus kita lindungi dari berbagai kepentingan dan keuntungan orang yang tidak bertanggung jawab serta dar berbagai pihak tertentu. Pendidikan itu untuk setiap orang, dari yang miskin sampai yang kaya raya, dari yang muda sampai yang tua renta, maka ini semua hanya sebuah keinginan untuk mengetahui bahwa pendidikan sangat penting bagi Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia untuk bisa lebih baik lagi menuju masa depan yang cerah.

  Kita harus mengetahui bahwa pendidikan itu bukan hanya tanggung jawab warga pendidikan semata tetapi tanggung jawab kita sebagai warga negara yang akan merubah sistem pendidikan pada saat ini menuju pendidikan yang lebih bermoral dan lebih mempunyai hati, bukannya sistem yang keras dan tak tahu diri dan membuat anak didik tidak mempunyai nilai moral yang mapan dan hati yang tulus ketika hidup dalam lingkungan masyarakat yang kejam. Oleh Karena itu kami berbicara dengan lantang bahwa sistem pendidikan pada saat ini tidak dapat bertahan lebih lama lagi di era globalisasi yang bergerak lebih cepat dari yang kita bayangkan. Mungkin di masa lalu sistem ini bekerja dengan sangat baik dan berhasil membuat banyak orang sukses dibidangnya masing-masing, tetapi untuk sekarang kita harus sadar bahwa sistem ini sudah gagal dan tidak efektif lagi untuk membawa perubahan dan terobosan dalam masa depan pendidikan.

  Ada beberapa hal yang harus dirubah dari sistem pendidikan saat ini pertama, terlalu ikut campurnya pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan. Tentu saja hal ini dapat menyebabkan adanya kesempatan melakukan kegiatan yang menguntungkan pihak tertentu saja (korupsi), karena sistem yang ada tidak transparan dan jelas, kekuasaan yang terpusat akan selalu menjadi ladang-ladang koruptor. Jadi pemerintah harus memberikan ruang selebarnya-lebarnya bagi sekolah negeri untuk dapat mandiri mengurusi segala kebutuhan pendidikan anak didiknya. Hingga akhirnya dimasa depan sistem pendidikan akan berubah menjadi sistem pendidikan yang berorientasi pada kemandirian dalam mengurusi keperluan rumah tangganya sendiri tanpa terlalu dalamnya ikut campur pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan. Karena guru dan sekolah lebih mengetahui tentang kebutuhan anak didiknya sendiri.

  Yang kedua adalah fasilitas disekolah negeri sangat memprihatinkan. Mengapa sekolah negeri yang sebenarnya adalah sekolah yang didirikan pemerintah untuk tempat menimba ilmu para warganya memilki fasilitas yang kurang memadai dan bahkan tidak mencukupi apresiasi masyarakat pada pendidikan, padahal penyelenggaraan pendidikan adalah hal yang paling penting dalam pembentukan sumber daya manusia yang kompeten untuk membawa Indonesia menuju gerbang kemakmuran dimasa depan. Oleh karena itu di masa depan setiap sekolah negeri harus mempunyai fasilitas yang cukup untuk kenyamanan para murid, standar yang ada harus jelas dan tegas tanpa adanya kompromi bagi pelanggaran yang terjadi.

  Pada dasarnya uraian diatas adalah visi masa depan secara umum dalam memperoleh pendidikan yang terbaik, tapi menurut saya pendidikan masa depan dapat lebih natural serta berorientasi pada alam sekitar. Dimana kita dapat belajar di alam terbuka tanpa harus terpaku duduk di kelas yang menutup ruang gerak dan inspirasi serta imajinasi, kita dapat mengeksplorasi pengetahuan di lingkungan seperti proses sosial antar individu dilihat dari kegiatan masyarakat contohnya dalam pedesaan. Cara itu lebih membuat siswa mendapat referensi apa yang telah dilihat dengan apa yang telah dipelajari (sense of feeling), sehingga murid dapat memberikan kesimpulan tentang apa yang menjadi bahan peajarannya. Cara itu membuat murid lebih cenderung berpikir dengan mengamati tingkah sosial masing-masing individu, dan ini dapat terlihat bagaimana cara berpikir siswa dapat dimengerti pembimbing dan akhirnya guru mudah memberikan kebutuhan sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan dipikirkan siswa.

  Pendidikan yang berorientasi pada alam juga dapat dijadikan alat untuk menyadarkan murid bahwa saat ini dunia sedang mengalami krisis (lingkungan, keamanan, dan globalisasi), dengan membawa murid melihat dampak-dampak kegiatan manusia tersewbut mengajak murid berpikir tentang apa yang dapat dilakukannya untuk dunia ini, dari sini terciptalah generasi yang peka terhadap permasalahan global. Dimasa depan murid tidak lagi menuju kelasnya dan mulai belajar ilmu-ilmu eksak, tapi murid mulai membawa buku-buku mereka menuju alam terbuka, mengamati setiap fenomena dilingkungan sekitar melihat segalanya dengan segala macam alat inderanya. Dimasa depan murid tidak lagi harus mendapatkan nilai yang telah ditentukan, tapi murid diajarkan untuk berpikir tentang suatu hal, sehingga sang guru bisa memberikan apa yang sangat dibutuhkan oleh muridnya berdasarkan cara berpikir tiap-tiap murid. Karena setiap manusia itu berbeda, cara berpikirnya, apa yang dia rasakan, wataknya, sikapnya, dan latar belakangnya. Bukannya sekedar mendapat nilai dan angka yang membuat mereka harus melakukan segala cara agar dapat diakui oleh guru-gurunya maupun orang tuanya.

  Pendidikan bukanlah hal yang mudah dijalankan tapi juga bukan hal yang sulit untuk dilaksanakan, janganlah menjadi orang tua yang egois dengan menuntut yang lebih dari anaknya yang pada dasarnya terbatas sebagai seorang manusia biasa. Mengerti bahwa mereka mempunyai hati yang mudah terluka hanya karena permintaan sederhana orang tua yang bagi mereka dianggap besar. Meminta mereka mendapat nilai terbaik dengan cara ditekan terus menerus dengan arahan-arahan yang keras hingga membuat mereka takut untuk gagal dan mencoba menghalalkan segala cara agar dapat dihargai oleh orang tuanya sendiri (seperti mencontek, curang dll) . Ini hal yang salah, seharusnya orang tua dapat memberikan motivasi dan membuat anaknya sadar untuk mendapatkan hasil terbaik dengan kemauan, kemampuan dan usaha mereka sendiri. Jadikan mereka manusia yang merasa wajib untuk mendapatkan nilai bagus untuk dirinya sendiri dengan cara-cara yang tidak menuntut, cobalah membuat mereka sadar akan kewajiban itu dengan kelembutan bukan dengan permintaan dan paksaan.

  Dimasa depan pendidikan akan mulai menggunakan sistem memotivasi diri sendiri, tiap-tiap murid dimotivasi dengan cara-cara yang lembut dan secara terus menerus sehingga pikirannya terprogram bahwa hal yang ia lakukan sekarang untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Dengan cara itu murid mulai berpikir dengan jelas tanpa adanya kebimbangan bahwa belajar adalah keinginannya sendiri bukan keinginan orang tuanya, dan setiap kegiatan belajar mengajar diikuti dengan semangat dan suka cita yang akhirnya membawa pada situasi yang kondusif dan banyak terjadi umpan balik antara guru dan murid. Akhirnya dia akan beranggapan “belajar itu untuk diri sendiri, kenapa harus membuang kesempatan yang langka seperti ini”.

  Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang menarik, misterius dan indah pada setiap waktu yang tak dapat diungkapkan, membawa pada dimensi ruang dan tempat yang tak pernah terbayangkan. Manusia adalah cahaya pengetahuan, kenapa cara-cara yang ditempuh untuk mencapai pencerahan itu harus dicapai dengan keterpaksaan? Pendidikan bukanlah penjara pencapaian, tapi adalah tangga mengenal keikhlasan. Naikilah tiap anak tangga itu dengan sukacita maka kau akan terangkat satu derajat sebagai manusia ketika kau mengamalkannya untuk dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar