Search

Selasa, 14 Desember 2010

FITRAH

Sore ini semua kembali pada tempatnya,
hujan kembali ke langit dan dunia mulai kembali ke pekat.

Detak jam dan jantung mengiringi pekikan tak terdengar.

Sendiri berderit dalam ranjang kosong diatas,
angin mengetuk jendela dengan keras. Semua hikmat menyimak, suatu harap dalam semak.

Aku mungkin seperti ular tak berkaki dan tak bertangan,
hanya bisa mendesis saat kau datang.

Buat kau lari tunggang langgang,
memang lidah tak bertulang.
Kau hina semua seperti lajang, andai kau Tuhan maka biarlah aku meradang.

Tapi kau bukan Tuhan, mendekati saja pun mustahil tersampaikan.

Jadi biarlah aku dalam sekam,
menikmati kekurangan yang ternaungi malam.

Dan lepaskan dalam mimpi,
menjalarlah semua sampai tinggi.

Lalu kaupun tak bisa melihat,
setinggi apa orang yang kau pahat.

Dengan palu merajam hati sampai merana,
dengan paku menusuk sukma sampai menderita.

Aku kembali pada fitrah,
dan kau hilang dalam indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar